Biofuel Menuju Generasi Kedua

November 12, 2007 pukul 3:38 am | Ditulis dalam Biofuel, Biomass | 1 Komentar
Tag: , , , ,

Biofuel Menuju Generasi Kedua

Biofuel sedang diusung politisi di seluruh dunia sebagai penyelamat dari iblis kembar harga minyak tinggi dan perubahan iklim

Boom biofuel di USA tumbuh dari hasrat Presiden Bush untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak luar negeri, dan di Eropa lebih disebabkan oleh dimensi lingkungan.

Seperempat dari total emisi di United Kingdom bersumber dari transportasi, dan 4/5 dari ¼ berasal dari kendaraan jalan raya.

Menyadari hal ini dapat menjadi ancaman pada usaha untuk memenuhi komitmen Protokol Kyoto, Pemerintah UK mengumumkan suatu kebijakan pada awal tahun ini, yaitu Kewajiban Transportasi Untuk menggunakan bahan bakar terbarukan (Renewable Transport Fuel Obligation (RTFO))

Hal ini mengharuskan perusahaan menambah 5% biofuel kedalam semua bensin dan solar yang dijual di wilayah kerja mereka sebelum 2010.

Masalah Lingkungan

Saat biofuel yang berasal dari tanaman dibakar di mesin, CO2 yang dilepaskan sebanding dengan jumlah gas yang diserap oleh tanaman tersebut saat tumbuh.

Siklus Karbon :

  1. Prinsip ilmiah di belakang biomass adalah siklus karbon;
  2. Saat tumbuh tanaman menyerap karbon dioksida
  3. Karbon (C) membentuk jaringan tumbuhan dan pada saat yang bersamaan oksigen dilepaskan
  4. Jika material tanaman (batang, daun, dll) dibakar, maka karbon akan bereaksi dengan oksigen
  5. Karbon dioksida yang terbentuk dilepaskan kembali ke atmosfir
  6. Maka kontribusi pembakaran biomass pada efek gas rumah kaca lebih kecil dibandingkan bahan bakar fosil tradisional

Maka pada prinsipnya proses ini adalah carbon neutral, meskipun energi yang dibutuhkan untuk menanam, memeliharan, memanen, memproses serta mengangkut produk biofuel menjadikan konsumsi karbon tidak seimbang.

Dua pemain utama di pasaran bioethanol dan biodiesel, dibuat dari tanaman pangan, seperti sereal, kedelai, minyak dari biji – bijian, tebu, dan minyak sawit.

Saat pemerintah mendukung pandangan mereka sebagai pemain utama di masa depan dengan konsumsi karbon rendah, sebenarnya masih ada beberapa permasalahan.

Kebutuhan lahan untuk menanam tanaman penghasil biodiesel akan mengambil lahan ekosistem yang penting misalnya hutan hujan, dan mengurangi ketersediaan lahan untuk kelanjutan penanaman tanaman pangan di negara berkembang.

Jika dilakukan pembukaan besar – besaran di hutan hujan untuk menanam kelapa sawit, bukan hanya kelapa sawit itu tidak ramah lingkungan, namun bayangkan akibatnya pada kekayaan hayati di wilayah itu.

Masih ada masalah pada sejumlah biodiesel yang kita gunakan, namun yang lebih penting lagi adalah bahan bakar fosil yang kita gunakan hanya bersifat sementara.

Generasi berikutnya

Maka kemudian yang harus segera dilaksanakan adalah produksi biofuel generasi kedua, misalnya untuk pengganti bensin adalah lignocelluloses.

Lignocelluloses adalah istilah lain dari biomassa, yang artinya (tumbuhan) apapun yang muncul dari tanah. Misalnya, daripada hanya mengambil beras dari padi, untuk dimasak jadi nasi, kita akan mengambil seluruh padi, mulai dari batang, daun, beras, dan kulitnya sekalian.

Biofuel generasi kedua akan memiliki jejak karbon yang lebih kecil, karena energi yang dibutuhkan untuk membuat pupuk dan pestisida akan tetap sama, namun energi yang dihasilkan akan lebih banyak.

Kemudian, dengan prinsip bahwa biofuel dapat dibuat dari tumbuhan apa saja, maka tidak akan terjadi pertentangan antara kebutuhan akan makanan atau kebutuhan akan bahan bakar. Nantinya akan tumbuh seinergi antara petani yang tetap menanam padi untuk diambil berasnya dan industri pengolahan dari limbah tanaman padi untuk dijadikan bahan baku bahan bakar, bahan kimia dan farmasi. Tahap berikutnya adalah pembudidayaan tanaman pangan dengan kandungan energi tinggi, misalnya bunga matahari dan bonggol jagung.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. hmm… menarik sekali artikel Anda. Ada sedikit komentar dari saya. anda tau berapa produksi bonggol per tahunnya??? pernahkah anda mendengar berita bahwa di TPA (tempat pembuangan akhir, dimanapun?) terjadi penumpukan sampah dari bonggol jagung??? penggunaan bonggol untuk energi lain sepertinya sudah kekurangan apalagi bila digunakan untuk biofuel generasi lanjut???
    ada solusi untuk pemenuhan produksinya? thanks.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: