Pemerintah Jerman Serahkan "Energy Efficiency Award"

Mei 29, 2009 pada 3:22 am | Ditulis dalam Berita Energi, Energy Policy, Managemen Energi | Tinggalkan Komentar
Technorati Tags: ,,,

JAKARTA. Pada tanggal 20 April 2009 lalu, Direktur Jenderal Migas Evita H Legowo menghadiri acara 4th World Energy Dialogue di Hanover Messe, Jerman. Dalam kesempatan tersebut, pemerintah Jerman menyerahkan penghargaan “Energy Efficiency Award” kepada perusahaan yang berhasil melakukan penghematan energi di Jerman. Pemenang pertama penghargaan tersebut, Ebm-papst Mulfingen GmbH&Co.KG dapat melakukan penghematan energi sebesar 91%, setara dengan 74 ribu Euro, sedangkan pemenang kedua, The Bosch Brewery (Bauerei Bosch GmbH&Co.KG), mampu menghemat sekitar 80% atau setara dengan 55 ribu Euro.

Acara ini dihadiri 627 peserta yang berasal dari 21 negara dan membahas berbagai kebijakan energi yang dilakukan berbagai negara untuk menjamin ketersediaan energi pada masa yang akan datang. Dari berbagai kebijakan energi yang disampaikan berbagai negara diantaranya Jerman, Uni Eropa, Korea, Rusia, dan Amerika, disebutkan bahwa kebijakan energi saat ini tidak hanya didasarkan pada sisi supply and demand, tetapi juga mencakup aspek yang lebih luas, yakni lingkungan, teknologi, maupun infrastruktur.

Pada acara tersebut antara lain dipaparkan mengenai “Sistem Jaminan Penyediaan Energi Terintegrasi” oleh Hans Peter Keitel, President of the Federation of German Industries; “Penyediaan Energi pada Era Globalisasi, Berkurangnya Sumber Daya Alam dan Perubahan Iklim” oleh Karl-Theodor Freiherr zu Guttenberg, Menteri Energi dan Teknologi Jerman; “Jaminan Penyediaan Energi di Eropa” oleh Andris Pielbags dari Komisi Uni Eropa; serta “Rusia sebagai Mitra Energi Eropa” yang disampaikan Menteri Energi Rusia, Ivanovich Shmatko.

Pertamina Ajukan Proyek Listrik Swasta

Mei 26, 2009 pada 10:44 am | Ditulis dalam Berita Energi, Energy Policy, Geothermal, Managemen Energi | Tinggalkan Komentar

23 Februari 2009 00:00:00
Pertamina Ajukan Proyek Listrik Swasta
TOMOHON – PT

Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Abadi Poernomo mengatakan pihaknya sudah mengajukan rencana pengembangan proyek pembangkit tersebut kepada pemerintah. Pengembangan pembangkit 2 x 20 megawatt tersebut akan menelan biaya sekitar US$ 200 juta. “Pengembangan proyek dilakukan pada 2012,” ujarnya akhir pekan lalu.

Menurut Abadi, pihaknya sudah mengusulkan agar proyek Lahendong unit V dan VI dimasukkan program percepatan pembangunan pembangkit 10 ribu megawatt tahap kedua. “Kami sudah mengusulkan pada rapat di kantor Wakil Presiden pada Januari lalu,” katanya. Namun, kata dia, dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik 2008-2018, proyek pembangkit itu tidak dimasukkan dalam program percepatan tahap kedua. “Keputusannya, kami serahkan kepada pemerintah apakah dimasukkan dalam proyek percepatan atau tidak,” kata Abadi. Abadi menjelaskan, jika proyek Lahendong unit V dan VI menjadi listrik swasta, Pertamina Geothermal akan mengembangkan dari hulu (uap) hingga hilir (pembangkitan). Listrik akan dijual kepada PT PLN (Persero). “Harga jual listrik untuk pembangkit panas bumi sekitar US$ 9 sen per kilowatt per jam (kWh),” ujarnya.

Selama ini, produksi uap dari lapangan panas bumi Lahendong dijual kepada PLN sebagai operator pembangkit. Produksi uap yang dijual kepada perusahaan listrik berasal dari Lahendong unit I dengan kapasitas 20 megawatt pada 2001, unit II kapasitas 20 megawatt pada 2007, dan unit III sebesar 20 megawatt pada 2009. Sedangkan Lahendong unit IV, yang akan segera dikembangkan, kata Abadi, semula diusulkan akan dijadikan proyek listrik swasta pada tahun ini. “Namun, PLN sudah menetapkan pembiayaan untuk pembangkitnya. Kami jual uap saja,” katanya. Saat ini, pada Lahendong unit IV sedang dilakukan pengeboran dengan biaya sekitar US$ 6-7 juta per sumur.

Abadi menjelaskan, selain proyek Lahendong unit V dan VI, pihaknya mengusulkan proyek listrik panas bumi Ulubelu di Talangpandan, Lampung, sebagai proyek listrik swasta. Total kapasitas pembangkit yang akan dikembangkan 2 x 55 megawatt. “Kami targetkan proyek akan beroperasi komersial pada 2011,” katanya. Pada 2009, pihaknya menganggarkan belanja modal sekitar US$ 130 juta.
Proyek panas bumi yang dikembangkan Pertamina Geothermal adalah Sibayak (Sumatera Utara), Sungai Penuh (Jambi), Hululais (Bengkulu), Lumat Balai (Sumatera Selatan), Ulubelu (Lampung), Kamojang (Jawa Barat), serta Kotamobagu dan Lahendong (Sulawesi Utara).

Sumber: Koran Tempo

Pertamina Desak PLN Serap Seluruh Listrik Geothermal

Mei 25, 2009 pada 1:12 am | Ditulis dalam Berita Energi, Energy Policy, Geothermal, Managemen Energi | Tinggalkan Komentar

Jakarta – PT Pertamina (Persero) mendesak PT Perusahaan Listrik Negara (PLN)  agar menyerap seluruh pasokan listrik dari panas bumi (goethermal) dalam rangka program 10.00 MW tahap kedua. Hingga saat ini Pertamina memiliki cadangan tenaga panas bumi yang cukup banyak, yang tersebar dimana-mana.

"Pertamina berharap geothemal yang dihasil oleh Pertamina bisa semua diserap oleh PLN," kata Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Toharso di Jakarta, Jumat (15/5/2009).
Ia menambahkan jika PLN belum siap mengembangkan tenaga panas bumi tersebut, Pertamina akan siap melakukan pengembangan pada wilayah kerja panas bumi Pertamina. "Pertamina itu siap saja," ucapnya

Mengenai harga panas listrik panas bumi, Toharso menjelaskan soal harga itu masih bisa dibahas lagi, yang terpenting kesiapan PLN menggalirkan listriknya dan harganya harus saling menguntungkan.
"Nggak bisa, dong. Harganya harus menguntungkan dua pihak business to business dong," sergahnya.

Seperti diketahui pemerintah telah menargetkan dalam proyek listrik 10.000  MW tahap kedua akan memprioritaskan pengembangan geothermal sebagai sumber energi listrik.

Pemerintah Tetapkan BPP Listrik 2008

Juni 11, 2008 pada 3:34 am | Ditulis dalam Berita Energi, Energy Policy, Managemen Energi | 2 Komentar

Pemerintah menetapkan besaran biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik tahun 2008 yang disediakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Aturan BPP listrik tahun 2008 ini diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor:269-12/26/600.3/2008.


Besaran BPP listrik ini, jelas Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE) J Purwono, akan menjadi acuan dalam menetapkan harga patokan penjualan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan pembangkit listrik berbahan bakar energi terbarukan lainnya. ”Aturan ini untuk semua energi terbarukan, baik pembangkit skala kecil, besar, dan menengah,” papar Purwono di Jakarta, Selasa (10/6).

Patokan BPP yang ditetapkan pemerintah ini, menurutnya, disusun berdasarkan masukan dari PLN. ”Jadi sudah mewakili kepentingan PLN, dan setelah kita evaluasi ternyata angka yang diusulkan PLN benar adanya,” ungkap dia.
BPP tenaga listrik tahun 2008 ini ditetapkan per sistem dan sub-sistem distribusi kelistrikan. BPP berdasarkan sistem distribusi kelistrikan ditetapkan untuk tegangan tinggi (BPP-TT). Sedang untuk BPP tegangan menengah (BPP-TM) dan tegangan rendah (BPP-TR) ditetapkan per sub-sistem distribusi kelistrikan.

Lanjutkan Membaca Pemerintah Tetapkan BPP Listrik 2008…

Pemerintah Tetapkan BPP Listrik 2008

Juni 11, 2008 pada 3:29 am | Ditulis dalam Berita Energi, Energy Policy, Managemen Energi | Tinggalkan Komentar

Pemerintah menetapkan besaran biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik tahun 2008 yang disediakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Aturan BPP listrik tahun 2008 ini diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor:269-12/26/600.3/2008.


Besaran BPP listrik ini, jelas Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE) J Purwono, akan menjadi acuan dalam menetapkan harga patokan penjualan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan pembangkit listrik berbahan bakar energi terbarukan lainnya. ”Aturan ini untuk semua energi terbarukan, baik pembangkit skala kecil, besar, dan menengah,” papar Purwono di Jakarta, Selasa (10/6).

Patokan BPP yang ditetapkan pemerintah ini, menurutnya, disusun berdasarkan masukan dari PLN. ”Jadi sudah mewakili kepentingan PLN, dan setelah kita evaluasi ternyata angka yang diusulkan PLN benar adanya,” ungkap dia.
BPP tenaga listrik tahun 2008 ini ditetapkan per sistem dan sub-sistem distribusi kelistrikan. BPP berdasarkan sistem distribusi kelistrikan ditetapkan untuk tegangan tinggi (BPP-TT). Sedang untuk BPP tegangan menengah (BPP-TM) dan tegangan rendah (BPP-TR) ditetapkan per sub-sistem distribusi kelistrikan.


Dalam Peraturan Menteri ESDM, BPP tegangan tinggi ditetapkan untuk 8 sistem distribusi kelistrikan.
  1. Sistem Sumatra Bagian Utara sebesar Rp 1.891 per kilowatt-hour (kWh)
  2. Sistem Sumatra Bagian Selatan-Sumatra Barat-Riau (Rp 565/kWh),
  3. Sistem Kalimantan Barat (Rp 2.312/kWh)
  4. Sistem Kalimantan Selatan-Kalimantan Tengah (Rp 1.148/kWh)
  5. Sistem Kalimantan Timur (Rp 1.732/kWh)
  6. Sistem Sulawesi Utara-Sulawesi Tengah-Gorontalo (Rp 974/kWh)
  7. Sistem Sulawesi Selatan-Sulawesi Barat-Sulawesi Tenggara (Rp 1.103/kWh)
  8. Sistem Jawa-Madura-Bali (Rp 783/kWh)


Sementara BPP tegangan menengah, ditetapkan untuk 21 sub-sistem distribusi.

  1. NAD Rp 2.158 per kWh,
  2. Sumatra Utara (Rp 1.984/kWh),
  3. Sumatra Barat (Rp 790 kWh),
  4. Riau (Rp 1.164/kWh),
  5. Sumatra Selatan-Jambi-Bengkulu (Rp 696/kWh),
  6. Lampung (Rp 667/kWh).
  7. Bangka Belitung (Rp 2.476/kWh),
  8. Kalimantan Barat (Rp 2.546/kWh),
  9. Kalimantan Selatan-Kalimantan Tengah (Rp 1.611/kWh),
  10. Kalimantan Timur (Rp 1.965/kWh),
  11. Sulawesi Selatan-Sulawesi Barat-Sulawesi Tenggara (Rp 1.249/kWh),
  12. Maluku-Maluku Utara (Rp 2.320/kWh),
  13. Papua (Rp 2.526/kWh),
  14. Nusa Tenggara Barat (Rp 2.289/kWh),
  15. Nusa Tenggara Timur (Rp 2.433/kWh),
  16. Bali (Rp 859/kWh),
  17. Jawa Timur (Rp 855/kWh),
  18. Jawa Tengah-DIY (Rp 849/kWh),
  19. Jawa Barat-Banten (Rp 853/kWh),
  20. DKI Jakarta-Tangerang (Rp 850/kWh).


Sedangkan BPP tegangan rendah ditetapkan untuk 21 sub-sistem distribusi.

  1. NAD (Rp 2.603/kWh),
  2. Sumatra Utara (Rp 2.306/kWh),
  3. Sumatra Barat (Rp 1.044/kWh),
  4. Riau (Rp 1.433/kWh),
  5. Sumatra Selatan-Jambi-Bengkulu (Rp 869/kWh),
  6. Lampung (Rp 860/kWh).
  7. Bangka Belitung (Rp 2.919/kWh),
  8. Kalimantan Selatan-Kalimantan Tengah (Rp 1.998/kWh),
  9. Kalimantan Timur (Rp 2.260/kWh),
  10. Sulawesi Utara-Sulawesi Tengah-Gorontalo (Rp 2.063/kWh),
  11. Sulawesi Selatan-Sulawesi Barat-Sulawesi Tenggara (Rp 1.505/kWh),
  12. Maluku dan Maluku Utara (Rp 2.919/kWh),
  13. Papua (Rp 3.192/kWh),
  14. Nusa Tenggara Barat (Rp 2.743/kWh),
  15. Nusa Tenggara Timur (Rp 3.072/kWh),
  16. Bali (Rp 1.012/kWh),
  17. Jawa Timur (Rp 1.030/kWh),
  18. Jawa Tengah-DIY (Rp 1.011/kWh),
  19. Jawa Barat-Banten (Rp 1.024/kWh),
  20. DKI Jakarta-Tangerang (Rp 1.005/kWh).

Malaysia Kembangkan “Biofuel” dari “Sweet Sorghum”

Juni 11, 2008 pada 3:21 am | Ditulis dalam Berita Energi, Biofuel, Energy Policy, Managemen Energi | 8 Komentar

Kuala Lumpur (ANTARA News) -

Dewan Perdagangan Islam Negeri Kelantan (DPIMNK), Malaysia, merencanakan memproduksi “biofuel” (bahan bakar nabati) dengan membangun perkebunan pohon “sweet sorghum”.

Ketua DPIMNK Illias Hussin mengatakan produksi ethanol dari pohon sweet sorghum untuk dijadikan biofuel dapat membantu mengurangi penggunaan bensin dari minyak bumi sekaligus mengurangi anggaran pembelian minyak bumi, demikian Utusan Malaysia, Selasa.

Lanjutkan Membaca Malaysia Kembangkan “Biofuel” dari “Sweet Sorghum”…

Perusahaan Cina dan India Buru Batu Bara Indonesia

Mei 15, 2008 pada 2:01 am | Ditulis dalam Berita Energi, Managemen Energi | 3 Komentar
Kaitkata: , , ,

Negara lain sedang mencari sumber energi, negara kita malah mengobral energi dengan tidak melibatkan perusahaan lokal. Kalau sumber energi kita sudah diangkut semua keluar negeri tinggal kita kelabakan mencari sumber energi.

Kamis, 15 May 2008

TEMPO Interaktif, Jakarta :P uluhan perusahaan India dan Cina berburu batu bara di lahan pertambangan Indonesia. Diantaranya National Thermal Power Corp (NTPC), perusahaan listrik India; Power Trading Company (PTC); Larsen & Turbo; Reliance; Agrawal Coal, dan Watien. Ketua Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia, Jeffrey Mulyono mengatakan India dan Cina berlomba mencari sumber daya alam batu bara karena besarnya cadangan di Indonesia. “Ada sekitar 15 perusahaan yang menyatakan minatnya,” ujarnya kepada Tempo.

Besarnya kebutuhan batu bara India dan Cina menyebabkan mereka berburu ke Indonesia. Apalagi kedua negara itu pun memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara berkalori rendah, sama dengan mega proyek PLTU 10 ribu MW di Indonesia.

Lanjutkan Membaca Perusahaan Cina dan India Buru Batu Bara Indonesia…

Truba Akuisisi PLTGU Bali

April 10, 2008 pada 10:31 am | Ditulis dalam Berita Energi, Coal Gasification, Energy Policy, Managemen Energi, Teknologi Pembangkitan, Turbin Gas | 7 Komentar
Kaitkata: , , ,

JAKARTA — PT Truba Alam Manunggal Tbk melalui anak perusahaannya, PT Enimax Power Energi, telah menandatangani kesepakatan untuk mengambil alih 80 persen saham PT Bhumi Agung Listrikindo. Bhumi Agung akan membangun pembangkit listrik tenaga gas Integrated Gasification Combined Cyrcle (IGCC) atau dikenal dengan PLTGU Syngas senilai 600 juta dolar AS dengan daya 330 mega watt di Pulau Bali.

Presiden Direktur Truba Alam Manunggal, Sidarta Sidik, mengatakan, PLTGU Syngas adalah teknologi yang sudah teruji yang digunakan di beberapa negara termasuk CIna, Amerika, dan Italia. ”Bahan bakar syngas lebih murah dan lebih bersih daripada diesel. Ini akan menjaga konsep daerah Bali sebagai tujuan wisata dunia,” kata sidarta dalam rilisnya, Rabu (9/4).

Pemerintah sempat memasukkan Bali dalam kategori daerah dengan krisis listrik. Di Bali, PLN membutuhkan lebih dari 900 mega watt untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel yang mahal serta sudah berusia tua.

Sidarta menambahkan, pembangkit Syngas berbeda dengan pembangkit yang menggunakan bahan bakar batu bara

Penjajahan Korporasi Asing Atas Migas Indonesia

Maret 11, 2008 pada 6:54 am | Ditulis dalam Berita Energi, Energy Policy, Managemen Energi | 1 Komentar

Pada saat kami menuliskan release ini, Christopher Lingle di harian Jakarta Post (20/02/08), dalam artikel yang berjudul “Restoring Indonesia’s economy to a higher growth path” mencatat bahwa pengangguran di Indonesia mencapai 40% dari total angkatan kerja. Selain itu, Bank Dunia menyebutkan sekitar 49, 5% Rakyat Indonesia berpendapatan di bawah 2US$/hari. Di sektor pendidikan, yang menjadi pilar utama pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), justru menggambarkan situasi yang lebih miris. Menurut data Susenas 2004, dari penduduk usia sekolah 7–24 tahun yang berjumlah 76, 0 juta orang, yang tertampung pada jenjang SD sampai dengan PT tercatat baru mencapai 41, 5 juta orang atau sebesar 55 persen.

Lanjutkan Membaca Penjajahan Korporasi Asing Atas Migas Indonesia…

Bagaimana kapasitor dapat memperbaiki faktor daya

Februari 11, 2008 pada 2:44 am | Ditulis dalam Managemen Energi | 2 Komentar
  1. Kapasitor mensupply tegangan reaktif / magnetisasi yang dibutuhkan untuk beban reaktif, sehingga tegangan reaktif yang dibutuhkan dari sistem jaringan listrik berkurang.
  2. Penempatan kapasitor yang tepat akan menambah manfaat pemasangan kapasitor. Penghematan daya reaktif terbesar akan didapat jika kapasitor dipasang semakin dekat dengan pusat beban. Jika dipasang pada lokasi ini, arus yang digunakan akan semakin kecil, yang selanjutnya akan mengurangi rugi – rugi motor yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja motor dan menghemat pemakaian energi.
  3. Aplikasi lain pemasangan kapasitor adalah pemasangan kapasitor bank yang akan mengurangi total daya reaktif. Arus yang mengalir di dalam kabel akan berkurang dan rugi – rugi daya akibat penghantar akan berkurang.
Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.