Pertamina Ajukan Proyek Listrik Swasta

Mei 26, 2009 at 10:44 am | In Berita Energi, Energy Policy, Geothermal, Managemen Energi | Leave a Comment

23 Februari 2009 00:00:00
Pertamina Ajukan Proyek Listrik Swasta
TOMOHON – PT

Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Abadi Poernomo mengatakan pihaknya sudah mengajukan rencana pengembangan proyek pembangkit tersebut kepada pemerintah. Pengembangan pembangkit 2 x 20 megawatt tersebut akan menelan biaya sekitar US$ 200 juta. “Pengembangan proyek dilakukan pada 2012,” ujarnya akhir pekan lalu.

Menurut Abadi, pihaknya sudah mengusulkan agar proyek Lahendong unit V dan VI dimasukkan program percepatan pembangunan pembangkit 10 ribu megawatt tahap kedua. “Kami sudah mengusulkan pada rapat di kantor Wakil Presiden pada Januari lalu,” katanya. Namun, kata dia, dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik 2008-2018, proyek pembangkit itu tidak dimasukkan dalam program percepatan tahap kedua. “Keputusannya, kami serahkan kepada pemerintah apakah dimasukkan dalam proyek percepatan atau tidak,” kata Abadi. Abadi menjelaskan, jika proyek Lahendong unit V dan VI menjadi listrik swasta, Pertamina Geothermal akan mengembangkan dari hulu (uap) hingga hilir (pembangkitan). Listrik akan dijual kepada PT PLN (Persero). “Harga jual listrik untuk pembangkit panas bumi sekitar US$ 9 sen per kilowatt per jam (kWh),” ujarnya.

Selama ini, produksi uap dari lapangan panas bumi Lahendong dijual kepada PLN sebagai operator pembangkit. Produksi uap yang dijual kepada perusahaan listrik berasal dari Lahendong unit I dengan kapasitas 20 megawatt pada 2001, unit II kapasitas 20 megawatt pada 2007, dan unit III sebesar 20 megawatt pada 2009. Sedangkan Lahendong unit IV, yang akan segera dikembangkan, kata Abadi, semula diusulkan akan dijadikan proyek listrik swasta pada tahun ini. “Namun, PLN sudah menetapkan pembiayaan untuk pembangkitnya. Kami jual uap saja,” katanya. Saat ini, pada Lahendong unit IV sedang dilakukan pengeboran dengan biaya sekitar US$ 6-7 juta per sumur.

Abadi menjelaskan, selain proyek Lahendong unit V dan VI, pihaknya mengusulkan proyek listrik panas bumi Ulubelu di Talangpandan, Lampung, sebagai proyek listrik swasta. Total kapasitas pembangkit yang akan dikembangkan 2 x 55 megawatt. “Kami targetkan proyek akan beroperasi komersial pada 2011,” katanya. Pada 2009, pihaknya menganggarkan belanja modal sekitar US$ 130 juta.
Proyek panas bumi yang dikembangkan Pertamina Geothermal adalah Sibayak (Sumatera Utara), Sungai Penuh (Jambi), Hululais (Bengkulu), Lumat Balai (Sumatera Selatan), Ulubelu (Lampung), Kamojang (Jawa Barat), serta Kotamobagu dan Lahendong (Sulawesi Utara).

Sumber: Koran Tempo

Pertamina Desak PLN Serap Seluruh Listrik Geothermal

Mei 25, 2009 at 1:12 am | In Berita Energi, Energy Policy, Geothermal, Managemen Energi | Leave a Comment

Jakarta – PT Pertamina (Persero) mendesak PT Perusahaan Listrik Negara (PLN)  agar menyerap seluruh pasokan listrik dari panas bumi (goethermal) dalam rangka program 10.00 MW tahap kedua. Hingga saat ini Pertamina memiliki cadangan tenaga panas bumi yang cukup banyak, yang tersebar dimana-mana.

"Pertamina berharap geothemal yang dihasil oleh Pertamina bisa semua diserap oleh PLN," kata Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Toharso di Jakarta, Jumat (15/5/2009).
Ia menambahkan jika PLN belum siap mengembangkan tenaga panas bumi tersebut, Pertamina akan siap melakukan pengembangan pada wilayah kerja panas bumi Pertamina. "Pertamina itu siap saja," ucapnya

Mengenai harga panas listrik panas bumi, Toharso menjelaskan soal harga itu masih bisa dibahas lagi, yang terpenting kesiapan PLN menggalirkan listriknya dan harganya harus saling menguntungkan.
"Nggak bisa, dong. Harganya harus menguntungkan dua pihak business to business dong," sergahnya.

Seperti diketahui pemerintah telah menargetkan dalam proyek listrik 10.000  MW tahap kedua akan memprioritaskan pengembangan geothermal sebagai sumber energi listrik.

‘Mataloko Terang’, Pengembangan Panas Bumi Untuk Listrik di Ngada, NTT

Januari 31, 2008 at 7:18 am | In Berita Energi, Geothermal | Leave a Comment

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar program ‘Mataloko Terang’. Inilah program pengembangan dan pemanfaatan potensi panas bumi untuk PLTP guna melistriki pedesaan di Mataloko, Ngada, NTT.

Program yang telah digulirkan sejak tahun 1998 ini menangani pengembangan potensi panas bumi di Mataloko, sejak dari sisi hulu hingga hilir. Melalui program ini potensi panas bumi yang terletak di areal sekitar 5 km2 dengan potensi cadangan terduga sekitar 65 MW bisa dimanfaatkan menjadi listrik.

Guna mengembangankan potensi panas bumi di Mataloko, pada Juli 2004 telah ditandatangani perjanjian kerjasama antara Ditjen Geologi dan Sumber Daya Mineral (GSDM), Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE), Pemda Kabupaten Ngada dan PT PLN. Sebagai koordinator adalah Ditjen LPE.

Pengembangan potensi sumber panas bumi yang terletak di sekitar 15 km sebelah timur kota Bajawa, Ibukota Kabupaten Ngada, dimulai dengan survei pendahuluan oleh Direktorat Vulkanologi tahun 1984 dan 1997. Kegiatan eksplorasi dilakukan tahun 1997 hingga 2002.

Eksplorasi dilakukan oleh Indonesia (Direktorat Vulkanologi) dan Jepang (GSJ, West JEC, MRC dan NEDO) dalam kerjasama ‘The research cooperation project of the Exploration os Small Scale Geothermal Resources in the Eastern part of Indonesia (ESSEI). Ada dua sumur yang dilakukan eksplorasi dalam kerjasama ini yaitu MT-1 dan MT-2.

Selanjutnya dua sumur lagi yaitu MT-3 dan MT-4 berhasil dibor tahun 2003 oleh Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral. Sedang sumur semi eksplorasi MT-5 dan sumur reinjeksi MT-6 berhasil dikerjakan pemboran tahun 2005. Berturut-turut hingga 2007 diselesaikan pemipaan menuju lokasi Steam Gathering (SG), pengerjaan SG serta uji uap gabungan.

Badan Geologi Selesaikan “Steam Gathering” Panas Bumi Mataloko

Januari 31, 2008 at 7:15 am | In Berita Energi, Geothermal | 3 Comments

Pekerjaan Steam Gathering (SG) uap dari sumber panas bumi Mataloko, Nusa Tenggara Timur berhasil diselesaikan oleh Badan Geologi. Dalam SG uap dari sumur-sumur panas bumi Mataloko terkumpul untuk selanjutnya dihubungkan melalui pipa ke titik serah terima uap PLTP Mataloko.

Menurut laporan Tim Pusat Sumber Daya Geologi, pembangunan fasilitas SG merupakan rangkaian dari pengembangan potensi panas bumi di Mataloko. Potensi panas bumi yang terletak sekitar 15 km sebelah timur kota Bajawa, Ibukota Kabupaten Ngada, NTT ini sudah dimulai sejak tahun 1984 dan 1997.

Sebelumnya, melalui anggaran APBN 2004 dan 2005 juga telah diselesaikan pekerjaan pemipaan uap dari empat lokasi kepala sumur (MT-2, MT-3, MT-4 dan MT-5) menuju lokasi SG. Serta pipanisasi air
separasi ke sumur injeksi MT-6 yang juga menggunakan alokasi dana APBN.

Selain itu juga telah dilakukan uji alir uap gabungan dari sumur MT-3 dan MT-5. Uji ini untuk mengetahui laju alir dan tekanan uap serta kondisi kimia fluida dari sumur-sumur panas bumi Mataloko di titik serah terima uap. Analisis kimia fluida dan uji alir uap gabungan ini dilakukan mengingat uap panas bumi dimanfaatkan untuk PLTP.

Hasil uji alir uap memperlihatkan sumur-sumur panas bumi di Mataloko merupakan sumur dry steak tanpa air (kecuali sumur MT-4). Kandungan gas di dalam uap (NCG) sebesar 4,44%-berat. Power conversion tiap MW gross adalah 8,51 ton/jam uap. Ukuran diameter orofis yang cocok untuk uji alir gabungan sumur MT-3 dan MT-4 adalah orifis dengan diameter 6 inchi.

Selain itu, juga diketahui bahwa laju alir uap gabungan (MT-3 dan MT-5) stabil sampai selesai uji sumur adalah 24 ton/jam equivalen dengan 2,8 MW power gross generated. Sedang tekanan inlet turbine 4.0 barg, temperatur 151?C. Adapun hasil pengukuran terakhir memperlihatkan kandungan total gas didalam uap kering adalah 4.09 wt.% dan kandungan gas H2S adalah 302.2 ppm.

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.